Wanita Network

Branding Sukses Ala Ismaya Group

Foto: Pexels


Nama Ismaya Group sudah tidak asing bagi warga kota besar yang peduli lifestyle. Nama-nama seperti Kitchenette, Djournal, Dragonfly, Social House,  Blowfish, Sushi Groove hingga DWP dan Jakarta Culinary Festival sudah menjadi bagian dari keseharian warga ibu kota, dan kota-kota besar lainnya.

Ismaya Group, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Food & Beverages dan Entertainment, dimulai pada tahun 2003 saat membuka Blowfish, yang waktu itu merupakan restaurant pertama di Indonesia yang menawarkan sushi.  Kini Ismaya Group telah berkembang pesat dengan memiliki 28 brand dan 100 outlet di Jakarta, Bandung, Surabaya, Dubai dan Shanghai.
 
Ayu Paramita, Corporate PR Manager Ismaya Group dalam workshop pembinaan wirausaha kuliner beberapa waktu lalu di Jakarta mengatakan, “Industri Food & Beverage memang terus meningkat. Apalagi dengan pertumbuhan kelas menengah yang besar, maka pergi ke restaurant kini bukan lagi untuk kebutuhan primer, yaitu karena lapar, tetapi juga alas an lain seperti bersosialisasi dengan teman, sekedar hang out, tempat meeting hingga menjdi tempat alternative bekerja selain di kantor,” ujar Ayu.

Pada intinya, industry ini menggeser lifestyle orang, apalagi di tengah maraknya sosial media  yang memungkinkan kita ‘melihat dan dilihat orang lain’ dengan mudah.

Di sinilah peran penting branding. Mengapa?
1/ Karena hal ini yang membuat kita beda dengan kompetitor
2/ Menumbuhkan kepercayaan kepada konsumen, bahwa yang Ismaya Group tawarkan bukan sekedar good food atau good service, tapi juga experience.
3/ Menjalin koneksi dan bisa bertumbuh bersama dengan konsumen.

Lantas, bagaimana cara Ismaya Group membuat branding yang kuat?
 1/ Visi.  “Namun, dalam bisnis harus dipadukan dengan research and development yang kuat,” kata Ayu.
2/ Konsep. Sebetulnya apa, sih,  unique selling kita? Yang membedakan bolu kita, dengan bolu kompetitor itu apa? Hal ini harus digali, untuk kemudian membuat pemetaan seperti apakah di lokasi yang ingin kita buka sudah ada belum resto yang mirip, kira-kira di sana konsumennya suka apa? Hal-hal ini yang akan membentuk brand identity kita.
 
 Bagaimana mengkomunikasikan brand dalam digital age:
1/ Gunakan media sosial dan digital marketing. Karena orang Indonesia itu 'kecanduan' sosial media.
2/ Media tradisional tidak mati, karena masih banyak orang menonton televisi, membaca majalah atau koran dan media-media ini masih kuat dalam komunitas sehinga bisa menjadi salah satu marketing channel yang efektif.
3/ Channel apapun harus selalu sesuai dengan target kita, termasuk menggunakan influencers harus sesuai dnegan brand identity kita. Apakah follower- mereka sesuai target market kita?
4/ Komunikasikan unique selling point Anda.
5/ keep up the hype, bisa dengan diskon, promo dan event-event  yang memungkinkan.
6/ drive traffic and loyalty. Ketika konsumen kita sudah membeli sekali, kita ingin mereka datang lagi dan  lagi dan kalau bisa ikut memasarkan brand kita.
Salah satu cara efektif adalah harus menjaga komen-komen negatif, terutama di sosial media. Komen negative harus segera diatasi, jangan lupa untuk dibalas. (wn)