Wanita Network

Menepis Skeptis Saat Merintis Bisnis Perhiasan Alenka & Margo


Tak ada yang salah dengan coba-coba. Bahkan ketika itu dilakukan bersama orang yang baru dikenal selama tiga bulan. “Kami belum lama saling mengenal. Ide gila itu muncul secara spontan. Saat ia melihat anting buatan saya sendiri,” kata Rani Tachril menunjuk rekannya, Rsi Respati. Tak terhitung berapa kali ia bercerita, masih saja ia tertawa mengingat awal mula perjalanannya di bisnis perhiasan Indonesia. “Kemudian, saya ajak Rani untuk membuat perhiasan bersama karena di Gianyar tempat tinggal saya, banyak pengrajin perhiasan. Tanpa nama dan konsep matang, kami buat saja dulu,” Rsi Respati menambahkan. Contoh yang sudah jadi dibawa ke Jakarta untuk ditunjukkan kepada lima orang. Ternyata semuanya laku terjual. “Lalu kami sadar, kami tak punya apa-apa lagi karena itu contoh perhiasan pertama,” kata Rani. 

Keduanya tinggal terpisah. Rani di Jakarta sedangkan Resi menetap di Bali. Urusan nama dibicarakan lewat telepon. Pemilihan nama awalnya hanya berdasarkan ketertarikan masing-masing pada satu nama. Tak mendalam kepada persoalan makna. Tetapi, kata seperti menemukan maknanya sendiri tanpa dicari. Nama Alenka berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti suci, sehat, dan beruntung. Margo umumnya dikenal sebagai mutiara yang mewakili kemurnian. Dua kata tersebut sangat menggambarkan perhiasan karya mereka sekarang. Bagaimana Rani dan Rsi ingin menampilkan para perempuan untuk menjadi dirinya sendiri. Tidak mengikuti orang lain dan berfokus pada identitas diri sebagai perempuan dan manusia.

Urusan pencarian nama selesai. Mereka masuk ke tahap brandingAlenka & Margo belum mempunyai logo atau kemasan yang bagus. Hanya kertas daur ulang. “Bukan kami tidak memikirkan bagaimana ke depannya. Kami tidak menyangka responsnya akan sebaik itu,” ujar Rani. Bisa dibilang mereka agak kaget dan butuh waktu. “Saat itu, orang Indonesia tidak terlalu mengapresiasi perak. Bahan tembaga, kuningan, dan emas memang lebih dikenal. Perhiasan yang bukan emas terlihat seperti mainan. Sambil produksi, ternyata pasar untuk perhiasan perak itu ada,” Rsi berkisah. 


Ada kebimbangan menentukan segmen pasar secara regional antara Jakarta dan Bali. Orang di kedua daerah ini memiliki selera yang sangat berbeda. “Saya melihat orang Jakarta menyukai perhiasan ukuran besar. Sebab, kebanyakan dipakai untuk acara. Sedangkan orang Bali lebih memilih perhiasan kecil yang bisa digunakan untuk kegiatan sehari-hari,” kata Rani yang juga aktif dalam bisnis properti dan salon. Ukuran perhiasan sangat penting bagi Rani dan Rsi karena dari itu dapat digunakan untuk melihat kepribadian seseorang. Meski pada akhirnya, mereka tetap berusaha mengakomodasi keduanya.

Dalam proses mencari gagasan hingga produksi, Rani dan Rsi harus memutar otak dan menahan ego masing-masing untuk bisa menemukan jalan keluar di tengah. Rani memegang kendali pada desain dan Rsi bertanggung jawab bagian produksi. “Kami tetap terbuka satu sama lain. Walaupun sudah punya peran sendiri. Saya sering bilang pada Rani apa yang saya sukai. Bayangannya sudah ada di kepala. Namun tidak bisa menuangkan dalam bentuk gambar. Rani yang bisa melakukannya. Selebihnya, saya memberi pendapat atau saran,” ungkap Rsi, ibu dua anak yang juga berprofesi sebagai dosen. 

 


Perdebatan dan pertentangan pendapat sudah pasti menjadi bumbu pada hubungan kerja sama mereka. “Kami sepakat, kalau ada di antara kita bilang tidak, maka keputusannya adalah tidak. Salah satu harus mengalah,” ujar Rani sambil tertawa. Dari sisi teknis, mereka banyak meneliti dan mengembangkan ide dari preferensi ketertarikan pribadi dan tren di masyarakat. Apa yang sudah ditemukan kemudian tertuang dalam gambar lalu dibuat desain tiga dimensinya. Pengrajin dan desainer perlu beberapa kali bolak-balik revisi untuk menyelesaikan sebuah desain. “Pokoknya kalau tahap desain selesai itu sama dengan merdeka!” ungkap Rani yang setelah itu akan berkutat langsung mengurus pelanggan. Kini, kesulitan yang mereka hadapi bukan lagi bagaimana menyatukan dua kepala. Mereka punya tim berjumlah 10 orang, selain pengrajin, yang  juga harus satu visi dan misi.

Rani dan Rsi masih setia menggunakan material perak untuk perhiasan mereka. Bagi keduanya, perak lebih kokoh dan keras. Bagaimanapun hasil jadinya, memulai dengan perak adalah keputusan yang menyenangkan. Alenka & Margo menyematkan tanda berupa titik bernama jawan khas Bali agar gaya asli Pulau Dewata tidak hilang dan juga menambah manis keseluruhan tampilan. Belum lama ini, Alenka & Margo melakukan eksperimen dengan material baru bernama rhodium dalam kolesi SabhaRhodium merupakan logam terbaik dalam keluarga platinum. Logam ini sangat tahan terhadap korosi dan sangat reflektif sehingga sering juga digunakan untuk penyempurnaan perhiasan, lampu sorot, dan cermin. 


Proses teknis tak akan terjadi tanpa inspirasi. Bagai tonggak utama dalam sebuah karya, inspirasi dari koleksi Alenka & Margo kerap didapatkan dari perjalanan. “Kemanapun saya pergi di situ ada inspirasi. Bukan melulu tentang desain tapi kami mau mengangkat sesuatu yang bernilai.” Ucapan Rani ini langsung disetujui oleh sang mitra. Mereka mengambil contoh perjalanan ke Papua dan cerita mengenai burung Cendrawasih yang meraka bawa ke dalam koleksi Papua. Cendrawasih seperti simbol perkembangan perempuan Indonesia dengan keunikan kisah perjalanan dan misinya. Kekayaan ragam di Indonesia memang tidak akan pernah ada habisnya. Alenka & Margo meneguk tiap keindahannya budaya, masyarakat, dan sumber daya alamnya yang tercipta dalam bentuk perhiasan.
 


Demikian pula koleksi Nias yang merepresentasikan kekuatan dan kehebatan suku Nias. Mereka juga meluncurkan kampanye yang mengiringi terbitnya koleksi tersebut. Terlepas dari banyaknya ide yang muncul, sebenarnya inspirasi utama mereka adalah perempuan Indonesia masa kini. Mereka  tidak mau hanya bicara tentang kebudayaan. Harus ada keterlibatan secara langsung. “Kami angkat beberapa kisah dari perempuan kuat dalam video,” ujar Rsi yang langsung ditambahkan oleh Rani “Segala peran yang diemban perempuan, dari sebagai ibu, istri, dan bahkan pekerja. Bisa dibayangkan, perjuangan perempuan itu luar biasa. Pada dasarnya hidup memang seperti itu, kita yang harus menghargai diri. Video-video tersebut ingin menunjukan bahwa ini adalah kita, perempuan Indonesia.” 

Pada titik ini mereka menyadari satu hal. Perempuan berevolusi. Sesama perempuan kadang tidak sadar dan memikirkan sehingga yang timbul hanya saling membicarakan. Mengajak perempuan untuk mau bekerja sama memajukan diri mereka menjadi tantangan di samping jarak dan menjalankan bisnis dengan sumber daya terbatas. 

Sepanjang perjalanannya, pencapaian terbaik mereka bersama Alenka & Margo adalah bertahan. “Semua bisa buat usaha apapun. Tapi bertahan, belum tentu,” Rani menegaskan.  Diperkenalkan tahun 2015, Alenka & Margo telah menjual hingga 700 perhiasan pada 2017 dengan tim yang organik. “Itu juga pencapaian. Karena mulanya kami tidak ingin buat besar. Kami senang-senang saja. Bahkan skeptis. Apakah kita akan bisa atau tidak,” ungkap Rsi. Waktu dan kerja keras membuktikan. Alenka & Margo masih bisa eksis hingga kini.

Di tengah tumbuhnya industri perhiasan lokal melalui kelahiran label-label baru, mereka berdua mengaku tidak merasa keberatan. Dalam bisnis, kompetitor sudah jadi kewajaran. Respons konsumen yang akan menentukan. Mereka menjadikan kompetitor sebagai pemicu semangat yang mendorong kreativitas. “Kepuasan dan keberhasilan itu ada di pelanggan. Kami sangat bahagia ketika melihat orang memakai Alenka & Margo. Buat kami, nilai yang pertama, keuntungan itu belakangan,” Rsi menjelaskan. Mereka belajar dari setiap langkah, keputusan, dan hasil yang telah atau sedang mereka lalui. Tanpa tahu apa yang akan menanti di masa depan. Rancangan dan persiapan pasti ada. Sambil tetap belajar dan menemukan hal baru. Mereka selalu bersiap menyongsong langkah baru untuk memperluas pasar dan menambah nilai bagi banyak orang. Foto-foto: dok Dewi

Artikel ini sudah dipublikasikan di www.dewimagazine.com