Wanita Network

LEAP SUMMIT 2020: BE A GAME CHANGER

Your image goes here

Pandemi membawa perubahan di semua aspek kehidupan kita. Tak terkecuali sektor perekonomian dan bisnis. Tak sedikit pebisnis yang harus memangkas jumlah karyawannya dan bahkan gulung tikar setelah beberapa bulan tak bisa beroperasi karena pandemi. Beberapa pembicara pada Leap Virtual Summit Conference yang bertemakan Be A Game Changer, pada tanggal 21 Desember 2020, adalah beberapa yang menolak menyerah pada kondisi ini. Pandemi justru mengajarkan mereka untuk berubah dan menjadi pembaharu.
Sandra Sunanto, CEO PT Hartadinata Abadi, Tbk., sempat dibuat pusing oleh demand perhiasan yang turun drastis di masa pandemi. Kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi perekonomian yang tidak pasti menyebabkan mereka lebih penuh pertimbangkan dalam melakukan pembelian. Di sisi lain, ada kebiasaan menabung yang meningkat akibat hal ini. Padahal, emas di Indonesia belum ada yang diproduksi full machine, semuanya handcrafted. Turunnya daya beli masyarakat terhadap emas mengancam nasib banyak pengrajin emas.
Sandra melihat hal itu sebagai peluang baru. Ia pun mengampanyekan edukasi investasi logam lulia (LM). “Tapi karena daya belinya masih rendah, saya mengeluarkan LM gramasi kecil, mulai dari 0,1 gram sampai 5 gram. Selain itu kami juga membuat koleksi produk perhiasan baru dengan desain yang minimalis dan gramasi yang kecil yang bisa menjangkau generasi milenial. Uniknya di Indonesia, perhiasan emas bukan sekadar lifestyle. Tapi dipandang sebagai legacy keluarga dan juga investasi,” tuturnya.
Kreativitas dan inovasi pun mengarahkan Sandra membuat desain LM yang menarik dengan mengeluarkan LM series tertentu. Ia ingin mengubah kebiasaan memberi hadiah saat momen istimewa kerabat atau sahabat, seperti pernikahan, melahirkan, hingga ulang tahun dengan memberi emas.
Problem berikutnya adalah sarana penjualan. Aturan pemerintah dan anjuran kesehatan membuat masyarakat membatasi keluar rumah. Bagaimana ia bisa menjual produk emasnya jika tak banyak pembeli yang datang ke toko? Sandra pun mengambil Langkah memasarkan LM dan perhiasan emasnya melalui e-commerce, yaitu Shoppee. Strateginya itu membuahkan hasil yang manis. Setelah ia mengeluarkan LM dengan gramasi kecil dan menambah outlet penjualan online, permintaan LM meningkat.
Selain produk dan cara penjualan, menurutnya perusahaan juga penting untuk beradaptasi dalam manajemen organisasi. “Perlu ada personal touch dalam pengelolaan perusahaan. Masa pandemi ini tidak hanya berat bagi pengusaha, tapi juga karyawan dan keluarganya. Kami perlu memastikan bahwa mereka dapat bekerja dengan tenang agar produktif dan tetap terjaga semangatnya. Sehingga jika keadaan sudah membaik, mereka siap untuk diajak melesat kembali,” tuturnya optimistis.
Vanessa Hendriadi, Co-Founder & CEO GoWork, yang sudah menyiapkan rencana ambisius untuk GoWork di tahun 2020, harus mengubah strategi bisnisnya. Seiring dengan banyaknya perusahaan yang terus menerapkan kebijakan work from home, ada kebutuhan pekerja akan tempat kerja yang tidak jauh dari rumah, tenang, dan aman yang muncul. “Tujuan utama GoWork adalah meningkatkan kehidupan bekerja yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas hidup dan kualitas karya,” jelasnya. Tujuan itu tetap relevan di masa pandemi ini.
Penyesuaian pun dilakukan Vanessa demi memenuhi tujuan itu di era pandemi. Yaitu dengan membuat protokol keamanan kesehatan yang meyakinkan, meningkatkan standar sanitasi, menata ulang ruangan sesuai aturan physical distancing, mengurangi area yang bisa dipakai bersama, serta membuat saluran-saluran komunikasi untuk mensosialisasikan berita dan informasi. “Kuncinya adalah how to stay relevant to the nowness, tetap relevan dengan kondisi terkini,” paparnya.
GoWork memiliki office space di 23 lokasi di 3 kota, dengan 60.000 anggota, >600 perusahaan (BUMN, multinasional, dan global). Sebelum pandemi, mereka bisa membuat >200 events untuk klien setiap bulannya. Kini, ia menyediakan office space GoWork sebagai venue pernikahan. “Pernikahan sekarang kan tidak bisa terlalu besar dan mengundang banyak tamu. Jadi pernikahan kecil yang disiarkan secara online jadi pilihan banyak pasangan. Karena kami punya space dengan prasarana yang memadai untuk itu, serta terbiasa membuat events, kami mengajak partner kami di bidang F&B dan lainnya untuk menyediakan jasa pernikahan,” ujarnya.
Keberanian untuk berubah dan beradaptasi di dunia bisnis yang dinamis mutlak dimiliki pebisnis. Meski begitu, belajar dari Sandra dan Nathasa, perubahan dan adaptasi yang dilakukan jangan sampai melenceng dari core purpose dan value perusahaan. Ini pulalah yang diyakini Asha Smarra Darra, Fashion Designer Oscar Lawalata Culture, yang dulu dikenal dengan nama Oscar Lawalata. Pada tahun 2020, ia mengumumkan perubahan identitasnya. Tapi sebagai desainer dan pengusaha fashion,semangat menjaga eksistensi kain Indonesia yang dimilikinya tetap sama.
Ia tak memungkiri, awalnya ada sedikit kekhawatiran untuk melakukan perubahan. Namun,  ia meyakini bahwa publik melihat dirinya lewat karyanya. “Orang dari dulu sudah melihat saya unik. Mereka juga sudah menghargai saya berkat karya-karya saya. Saya berpikir, seharusnya gender tidak mempengaruhi hal itu,” tukasnya. Jika pada akhirnya mempengaruhi, ia sudah siap. Ia tidak mau orang menghargainya, tapi ia harus berpura-pura dan tidak menjadi dirinya sendiri.
Melakukan perubahan di masa pandemi tentu bukan hal yang mudah. Laju pergerakan bisnis yang melambat juga dirasakannya. Ia menggunakan kesempatan itu untuk fokus belajar dan mengembangkan diri. Salah satunya adalah mempelajari online business dan dunia digital. Seiring dengan perubahan identitas dirinya dan upaya menyesuaikan diri dengan perkembangan bisnis, Asha membuat brand baru bernama SHA House. SHA yang berarti society humanity artisanal merupakan brand ready to wear kain Indonesia. Ini salah satu upayanya untuk memasuki digital market dan online business. “SHA House mengkurasikan karya-karya artisalan. Sebagai titik awal, kami juga merilis produk masker,” jelasnya.
Di luar kondisi pandemi, produk buatan tangan sudah menjadi isu. Yang menjadi perhatiannya adalah bagaimana karya-karya pengrajin ini bisa tetap eksis dan bertahan di tengah terpaan produk-produk pabrikan dan impor yang dijual online. “Bukannya tidak mungkin untuk bertahan. Tapi yang terpenting bagaimana kita bisa lebih cerdas dalam menciptakan rasa cinta dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap kain-kain khas Indonesia dalam bentuk lifestyle, melalui fashion.
Sandra, Vaness, dan Asha mengajarkan pentingnya kemampuan membaca perubahan perilaku serta memahami keresahan dan kebutuhan konsumen. Lalu, apa yang sejalan dengan produk dan jasa perusahaan yang bisa mengatasi keresahan dan memenuhi kebutuhan itu. Hal penting lain yang tak boleh dilupakan adalah menjaga semangat tim di tengah kondisi yang sulit dan penuh perubahan.
Pengalaman ketiga pengusaha ini bisa menjadi inspirasi bagi pemilik usaha di seluruh Indonesia, yang tengah berjuang menghadapi perubahan di dunia. “Dalam hitungan bulan, mereka mengubah bentuk bisnisnya sesuai yang dibutuhkan agar bisa sustain. Menjadi seorang game changer itu bisa dilakukan, tapi tentu saja dnegan langkah-langkah yang tepat,” ujar Svida Alisjahbana, CEO GCM Group dan Founder Wanita.Network, yang menjadi moderator pada sesi ini.
 
EKA JANUWATI