Wanita Network

The Social Dilemma, Film Dokumenter Terbaru Netflix Yang Menjabarkan Kehidupan Masa Kini

Poster film dokumenter terbaru dari Netflix "The Social Dilemma". Foto: Dok. Netflix.


Netflix, sebuah perusahaan pelopor dalam penyedia layanan streaming acara hiburan dan production company baru-baru ini melansir sebuah film dokumenter yang sangat menarik dan akan ‘membuka mata’ Anda terhadap dunia teknologi. ‘The Social Dilemma’, film yang sesuai dengan pandangan saya sebagai pekerja media yang besar di perkembangan teknologi.

Dimulai dari TV hanya TVRI, radio, kaset sampai sekarang cukup streaming lagu, kebesaran hingga kemunduran media cetak, kemunculan pertama kali komputer, telepon genggam berbentuk kurva terkesan super keren sampai video 15 detik dapat menjadi media baru menyebarkan sebuah pengetahuan. Dilema dalam hati ketika melihat perkembangan teknoloogi yang tidak diikuti dengan dikembangkannya cara menghentikan adiksi akan semua kemajuan itu.


Perkembangan teknologi tersebut memang baik dan tak dapat dipungkiri terdapat perubahan besar sistematik yang positif terjadi di seluruh dunia. Beragam media atau platform berbasis internet pasti memudahkan hidup kita dari sesuatu yang sangat terkecil seperti pengingat jadwal, hingga pendaftaran usaha dapat lebih luas dengan Google Business. Namun, setiap hal mempunyai sisi lain layaknya setiap hal di dunia ini. Sisi gelap teknologi berbasis internet inilah yang dibahas oleh film tersebut. 


Jika dipertanyakan, apakah efek negatif dan sisi gelap industri teknologi atau apa masalahnya dari perkembangan teknologi? Dari sinilah pembahasan dimulai dan menjadi sangat menarik. Menarik karena masalahnya ternyata begitu kompleks hingga tak dapat dirangkum menjadi sebuah kalimat bahkan paragraf. Pentingnya dan beratnya pembahasan ini membuat salah satu narasumber bahkan berbicara pada pengacaranya sebelum tampil pada film tersebut karena yang akan dibagikannya membuat dirinya cukup takut terseret jeratan hukum. 


Narasumber film tersebut merupakan para mantan pekerja di Facebook, Google, Twitter, Instagram, YouTube, Apple, Palm, Mozilla Labs yang kemudian beralih ke Firefox saat ini dan masih banyak lagi. Sebagian besar dari mereka menjabat posisi penting dari divisinya serta ahli di bidang teknologi sebelum berhenti. Seperti Tristan Harris yang merupakan Co-Founder dari Center for Humane Technology dan mantan pakar etika desain Google. Tim Kendall mantan direktur monetisasi di Facebook, President di Pinterest, dan CEO dari Moment. Jaron Lanier, penulis buku “Ten Arguments for Deleting Your Social Media Accounts” yang merupakan penemu Virtual Reality dan ilmuwan komputer. 


Selain para pencipta fitur teknologi tersebut, terdapat pula Roger McNamee, investor dan pemodal usaha awal Facebook yang berpengalaman selama 35 tahun sebagai investor bidang teknologi mengungkapkan, “Pada 50 tahun pertama Silicon Valley, industri ini membuat produk dan dijual ke pelanggan. Bisnis baik yang sederhana. Selama 10 tahun terakhir, perusahaan terbesar di Silicon Valley berbisnis dengan menjual penggunanya.”


Tristan Harris merasa adanya sebuah masalah di industri teknologi dan belum bernama. Namun, masalah tersebut tak hanya menyebabkan satu masalah melainkan di berbagai sektor. Sebagai titik awal masalah, Aza Raskin, mantan karyawan Firefox dan penemu Infinite Scroll bersama Tristan mengatakan hal serupa. Jika Produk yang kita gunakan tidak berbayar, berarti pengguna atau kitalah yang dijual atau sebagai produknya.


Sama halnya ungkapan Jaron Lanier, ”Perubahan perlahan, sedikit, dan tak terlihat dalam perilaku serta persepsi kita, itulah produknya. Itulah sumber uang mereka, mengubah perilaku, cara berpikir, dan jati diri Anda.” Dapat dikatakan mereka membuat model berdasarkan data Anda yang terekam secara daring, perusahaan yang memiliki model terbaik berdasarkan prediksi dan data, akan menang dan hal tersebut dijual sebagai produk. Pembuat model terbaik adalah yang dapat membuat Anda lebih lama berinteraksi pada platform tersebut.


Salah satu nara sumber berkata, “Saat (bekerja) di sana, saya selalu merasa, pada dasarnya, yang dilakukan demi kebaikan. Entah apakah saya merasa seperti itu lagi”. Hal tersebut bukanlah tidak berdasar. Segala sesuatu yang setiap individu lakukan secara daring atau melalui jaringan internet, diawasi, dilacak, dan diukur. Seperti secara pasti terekam dan terukur hingga berapa lama Anda melihat gambar pada platform berbasis jaringan internet. Pusat data bahkan mengetahui perasaan, introvert atau ekstrovert, mereka mengetahui semuanya. Data tersebutlah yang dimaksud dan dijual menjadi penghasil uang.


Meski masih kontroversial, salah satu contoh masalah lain yang ditimbulkan adalah terdapat beragam studi dan riset yang mengungkapkan hubungan antara kesehatan mental dengan penggunaan situs jejaring sosial. Sebagai contoh yang dirilis pada situs National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine membuktikan ada hubungannya antara depresi, kecemasan, kecanduan akan media sosial, dan kepercayaan diri yang rendah. Hal ini bukanlah hal baru dan sudah dibahas di berbagai media. Namun, film dokumenter ini mengungkapkan bahwa arah industri teknologi seperti kehilangan arah, bertujuan akhir profit semata dan tidak mencoba mengurangi efek negatif dari kemajuan tersebut secara tajam dengan nara sumber dari pakar di industrinya. 


Internet memang menjadi terobosan bahkan Shoshana Zuboff, PhD berkata bahwa lokapasar ini belum pernah ada sebelumnya dan memperdagangkan prediksi nilai saham manusia yang membuat perusahaan internet menjadi perusahaan terkaya dalam sejarah. Bahkan, pada bagian awal film tersebut bahkan menyantumkan sebuah kalimat dari sastrawan Yunani Kuno, Sophokles tepat meringkas inti sari film ini, “Tak ada hal besar yang memasuki kehidupan manusia tanpa kutukan”. Setiap hal terdapat konsekuensinya dan naif jika tidak berpikir hal tersebut. Meski setiap para pencipta dan pelaku di industri teknologi tersebut pada awalnya pasti tidak ada yang berniat buruk atau mengharapkan semua ini terjadi. Namun, semua hal yang terjadi saat ini menjadi sebuah dilema dari struktur kehidupan sosial yang diinfiltrasi teknologi. (WN)