Wanita Network

Kesepian di Tengah Pernikahan, Begini Mencegahnya!

Foto: Pexels

 

Menikah ternyata tidak menjamin seseorang dari bahaya kesepian. Sebuah penelitian menunjukkan, sekitar 20?ri pasangan secara umum menderita kesepian pada waktu tertentu. Dan dalam studi terbaru yang dilansir psychologytoday.com, 62,5?ri pasangan yang menikah melaporkan kesepian meski mereka tinggal bersama.

 

Kondisi ini tentu cukup memprihatinkan. Karena kesepian menyebabkan kesedihan emosional yang bisa mengganggu kesehatan mental dan fisik. Kesepian menekan fungsi sistem kekebalan tubuh kita, yang menempatkan kita pada risiko lebih besar untuk penyakit kardiovaskular dengan ancaman kematian. Di bidang kesehatan mental, kesepian menyebabkan risiko depresi dan mengubah persepsi tentang bagaimana kita memandang diri sendiri, hidup, dan perkawinan secara negatif.

 

Kesepian dalam perkawinan sering terjadi secara lambat, karena terputusnya ‘komunikasi’ secara bertahap meningkat selama bertahun-tahun. Tidak ada lagi diskusi tentang mimpi-mimpi yang akan diwujudkan. Yang tersisa hanya perbincangan ‘rutin’yang membosankan: “anak butuh susu” atau “apakah tagihan listrik sudah dibayar?” Perkawinan jatuh dalam rutinitas sehari-hari yang semakin menjauhkan jarak emosional. Singkatnya, kita kehilangan cinta dan kasih sayang meski tetap dalam pernikahan.

 

Tentu tak mudah untuk mulai memperbaiki situasi ini, tetapi harus tetap dicoba dengan latihan dan kesabaran. Beberapa hal di bawah ini bisa menjadi rekomendasi untuk Anda dan pasangan:

 

Ambil inisiatif. Jika Anda kesepian, kemungkinan besar pasangan Anda juga. Tetapi mereka juga mungkin terjebak dalam rutinitas dan tidak berdaya untuk memperbaikinya. Cobalah untuk memulai percakapan tentang sesuatu yang mereka pedulikan dan pastikan untuk menunjukkan bahwa Anda mendengarkan. Jangan berharap mereka segera membalas, karena kebiasaan membutuhkan waktu untuk berubah. Tetap sabar dan berpikir positif.

 

Buat pengalaman bersama. Jika pasangan Anda ada di ruangan lain menonton acara favoritnya, duduk di sebelahnya dan berkata, “Kamu sangat menyukai acara ini, aku ingin mencobanya.” Dia mungkin bingung, curiga, atau keduanya, tetapi sikap tulus Anda akan mendamaikan pikirannya. Setelah selesai nonton, beritahu pasangan apa yang Anda hargai. Hal lain yang bisa Anda lakukan adalah mengajak pasangan untuk  berjalan-jalan di sekitar komplek, memasak makanan bersama, menonton video pernikahan, atau mengatur album foto bersama.

 

Berlatih mengambil perspektif pasangan. Makin lama kita menikah, makin kita cenderung berasumsi bahwa kita tahu apa yang dipikirkan orang lain. Tetapi penelitian jelas menunjukkan ini tidak benar. Mencari tahu perspektif orang lain hanya bisa dilakukan dengan latihan. Anda harus memejamkan mata dan fokus selama beberapa menit pada perspektif orang lain, membayangkan dunia mereka dan sudut pandang mereka di dalamnya. Mendapatkan pemahaman yang lebih besar tentang pikiran dan perasaan pasangan akan memungkinkan Anda untuk mengungkapkan lebih banyak simpati dan pengertian terhadap mereka. (wn)