Wanita Network

Bisnis Olahan Pangan: Mencari Celah di Pasar Minuman Kemasan yang Kompetitif

Foto: Unsplash

 

Di tengah pandemi COVID-19 ini, kalau kita perhatikan banyak sekali orang yang mencoba peruntungan berbisnis minuman jamu. Ya, sejak Maret 2020 lalu jamu Nusantara memang tengah naik daun, seiring dengan kian merebaknya penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2 ini.

 

Yuyun Anwar, seorang konsultan olahan pangan dalam podcast Wanita.Network yang bisa didengarkan melalui website ini atau Spotify, mengatakan bahwa pandemi memang membuat orang membutuhkan asupan makanan atau minuman yang meningkatkan kesehatan. Tak heran bila jamu dalam kemasan mengalami peningkatan pejualan. Popularitasnya mulai menyusul minuman kopi kemasan yang sudah terlebih dahulu naik daun.

 

“Ada beberapa jenis olahan makanan, seperti minuman kopi, jus buah, dan jamu, yang bisa kita olah dengan fasilitas yang ada di dapur, karena itu banyak yang terjun mencoba bisnis minuman dalam kemasan,” kata Yuyun.

 

Yang dimaksud kemasan di sini adalah minuman yang dikemas dan disimpan dalam lemari es. Kemasannya bisa menggunakan botol PET, botol beling (kaca), plastik atau jar beling (kaca), lalu disimpan dalam suhu kulkas.

 

Anda tertarik untuk menekuni usaha ini? Pertama kali, Yuyun menyarankan Anda untuk melakukan pemetaan (mapping) persaingan di usaha ini.

 

“Peta persaingannya seperti apa? Misalnya, di kawasan Anda kira-kira ada berapa banyak usaha serupa, bagaimana kemasan mereka, bagaimana sistem pengantaran mereka dan lain sebagainya,” kata Yuyun.

 

Kalau petanya zona merah, Anda harus menambahkan value lain. Misalnya kita menambahkan cerita atau story driven. Saat ingin berjualan es kopi susu misalnya, Anda bisa bercerita tentang susu segar yang Anda pakai, misalnya khusus diambil dari peternak rakyat di Lembang. Cerita ini yang membedakan produk Anda dengan yang lain.

 

Untuk minuman jus buah segar misalnya, Anda bisa mengulik sisi kesegaran dan keaslian buah yang Anda pakai sebagai keunggulan. “Seperti yang kita tahu, pabrik-pabrik besar yang memproduksi jus buah itu menggunakan ekstrak buah,” ujar Yuyun.

 

Berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum mulai berbisnis:

1/ Mapping (pemetaan) pasar

2/ Riset pasar kecil-kecilan, kira-kira siapa orang yang akan menjadi konsumen produk Anda, mereka inginnya minuman seperti apa, berapa harganya, harapan mereka seperti apa.

3/ Produksi kecil-kecil saja dulu. Begitu respons baik, bisa ditambah kuantitas produksinya.

4/ Untuk promosi saat ini mau tidak mau dengan cara online dan media sosial. Sampaikan setiap hari keunggukannya lewat media sosial.

5/ Setelah respons pasar baik dan izin usaha keluar, bisa dipikirkan untuk membuka distributor atau reseller.

6/ Seiring dengan perkembangan bisnis, pastikan selalu sesuai value produk Anda. “Kalau dari awal, ingin menjual minuman menambah imunitas, ya jangan menambahkan pengawet dan bahan-bahan lain yang bisa berbahaya bagi tubuh,” kata Yuyun. Penggunaan bahan pengawet boleh, tapi harus sesuai prosedur dan terkontrol.

7/ Pengawetan secara alami adalah menggunakan rantai dingin, maksudnya menjaga produk di suhu 0-5 derajat Celsius. “Di suhu ini, zat-zat atau nutrisi alami bahan produk Anda akan terjamin. Misalnya untuk minuman jahe bisa bertahan 2-3 hari, sedangkan jus buah bisa sampai 2 minggu,” kata Yuyun. (wn)

 

Baca Juga:

Dianggap Dukung Rasisme di Amerika, Merk dan Logo Aunt Jemima akan Pensiun Selamanya