Wanita Network

Peran Tanaman Obat Nusantara di Tengah Pandemi Corona

Foto: Unsplash

 

Ketika infeksi COVID-19 mulai merebak, banyak orang menoleh ke tanaman obat yang secara turun temurun sudah dikenal oleh masyarakat kita. Minum jamu-jamuan, seperti seduhan kunyit dan temulawak, tiba-tiba menjadi bagian dari keseharian banyak orang.

 

Sebetulnya, bagaimana peran obat herbal yang mudah ditemukan di Indonesia ini dalam pencegahan infeksi virus corona?

 

Dalam diskusi online yang diinisiasi Archipelago Scholar, yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan, dan penelitian yang berhubungan dengan pengembangan kesehatan, Wahyu Dewi Tamayanti, Apt, MSc yang saat ini sedang studi S3 di NYMU Taiwan mengatakan bahwa beberapa tanaman obat memang telah terbukti bisa mencegah dan melawan infeksi COVID, meski hingga saat ini untuk COVID-19 belum teruji secara komplet.  Diskusi online yang diadakan 22 April 2020 ini berjudul Peran Obat Herbal Nusantara dalam Pencegahan COVID-19, yang merupakan bagian rangkaian kegiatan Melawan COVID-19 bersama Archipelago Scholar.

 

“Virus corona adalah virus yang memiliki materi genetik berupa RNA. Untuk bereplikasi atau memperbanyak diri, virus ini butuh bantuan DNA atau protein lain dari makluk hidup lain, yang dalam hal ini adalah sel manusia atau hewan, salah satunya sel goblet dalam saluran pernafasan manusia.”

 

Menurut Dewi, yang adalah dosen Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, kita perlu mengenal terlebih dahulu bagaimana sistem imunitas kita bekerja melawan virus, bakteri atau patogen lain yang masuk ke tubuh. “Sistem imunitas adalah bagian dari sel darah putih, dan berdasarkan waktu bekerjanya, dibedakan menjadi dua, yaitu sel sistem alami dan sel sistem adaptif,” jelas Dewi.

 

Ketika virus, bakteri atau patogen lain masuk ke tubuh, yang paling cepat memberikan respons adanya gangguan itu adalah sel sistem imun alami. Dalam hitungan jam, mereka bekerja memproses pembunuhan gangguan yang masuk. Sementara, sel sistem imun adaftif bekerjanya setelah beberapa hari sejak patogen itu masuk ke tubuh. Mereka menangani pembunuhan virus dengan proses yang lebih lambat.

 

“Ketika ada benda asing masuk ke tubuh, sel sistem imun alami akan mendekat dan berusaha untuk memakan benda asing tersebut. Dalam saat yang bersamaan, sel sistem imun alami ini mengenalkan virus atau bakteri yang masuk tadi kepada sel sistem imun adaptif sehingga sistem imun adaptif bisa membantu membunuh dengan cara yang lebih keras dan selektif,” Dewi menerangkan. Dalam proses pengenalan dan pembunuhan virus itu, dikeluarkan protein-protein di antaranya adalah interferon.

 

Karena itu, untuk pencegahan infeksi tubuh, maka peningkatan sistem imunitas menjadi hal penting. Bagaimana caranya?

 

Tentu seperti yang sudah sering kita dengar yaitu makan dengan gizi seimbang, istirahat cukup, olahraga cukup, dan mengonsumsi tanaman obat yang bisa membantiu menjaga dan meningkatkan kekebalan jika diperlukan.

 

“Sudah ada beberapa tanaman obat yang melewati rangkaian panjang penelitian yang bisa digunakan untuk mengatasi infeksi virus yang paling dekat dengan penyebab COVID-19, yaitu virus influenza yang sama-sama memiliki materi RNA, meski tingkat keganasan dan kemampuan replikasinya yang berbeda,” kata Dewi.

 

Beberapa tanaman obat yang banyak tumbuh dan gampang ditemukan di Indonesia adalah bawang putih, jahe, kunyit, teh hijau, dan temulawak. Cara kerja tanaman obat ini bisa dengan langsung membunuh virus (antiviral) atau secara tidak langsung yaitu dengan cara meningkatkan sistem imunitas tubuh, mengurangi nyeri (anti inflamasi) akibat radang yang disebabkan oleh infeksi atau meningkatkan proses metabolisme dengan cara meningkatkan sekresi kelenjar limfe ke tempat yang terinfeksi.

 

Berikut ini khasiat masing-masing tanaman obat tersebut:

 

Foto: Pexels

 

Jahe

Membantu meningkatkan daya tahan tubuh karena bekerja sebagai anti radang dan memodulasi jumlah kadar sel sistem imun adaftif. Kandungan atsiri pada jahe bisa membantu menghangatkan tubuh sehingga memperlancar metabolisme.

 

 

Foto: Pexels

 

Teh Hijau

Teh hijau mengandung katekin yang dari penelitian bisa mengatasi virus influenza dengan cara menghambat masuknya sel virus kedalam tubuh manusia.  Katekin meningkatkan sel sistem imun adaptif, yaitu natural killer cell, yang sangat poten membunuh patogen.

 

Pada orang yang tidak suka minum green tea, manfaat tetap bisa didapat dengan kumur setidaknya sehari tiga kali. “Penelitian melaporkan, pasien influenza yang berkumur dengan teh hijau sehari tiga kali bisa sembuh lebih cepat daripada yang tidak,” kata Dewi.

 

 

Foto: Pexels

 

Bawang putih

Memiliki kandungan alisin yang bisa menghambat proses replikasi virus influenza. Alisin ini selain bisa membunuh virus, juga meningkatkan produksi sel limfotik, salah satu jenis sel imun adaptif.

 

 

Foto: Pixabay

 

Temulawak

Mengandung kurkumin untuk meningkatkan jumlah interferon (protein yang poten melawan virus) dan mengaktifkan protein sitokin yang lain, yang sifatnya berada di antara sel sistem imun alami dan sel sistem imun adaptif.

 

 

 

Foto: Unsplash

 

Kunyit

Mengandung kurkumin juga. Bekerja dengan jalur yang sama seperti temulawak. Ini adalah jalur yang dipakai virus untuk menghasilkan sitokin yang membuat peradangan lebih parah. Bila jalur ini dihambat, peradangan bisa ditekan.

 

 

Lantas, bagaimana cara terbaik untuk ekstrakasi tanaman obat ini? “Sebaiknya direbus dengan air,” kata Dewi.

 

Karena, dengan cara perebusan, berbagai macam komponen seperti polisakarida bisa terambil dan bisa mengaktifkan sistem imun kita.  “Polisakarida akan dimetabolisme oleh mikrobiota yang ada dalam usus kita menjadi bentuk yang lebih kecil yaitu berupa asam lemak rantai pendek yang bisa menekan sistem imun yang berlebihan,” terang Dewi. Dengan demikian, sistem imun yang distimulasi oleh tanaman obat menghasilkan proses keseimbangan.

 

Sementara, bila tanaman obat itu diekstraki dengan etanol, kebanyakan akan terambil senyawa yang menekan sistem imun.

 

Hasil-hasil penelitian potensi tanaman obat dilakukan agar pengguna dapat lebih ternyakinkan untuk mengkonsumsi dengan cara yang aman sesuai takaran sehingga bisa memperoleh manfaat optimal. Satu hal yang tak kalah penting, menurut Dewi,  konsumsi tanaman obat ini bila diperlukan saja, yaitu ketika kita mulai mengalami rasa keletihan yang lebih dari biasanya, rasa tidak nyaman di tenggorokan.

 

Untuk kurkumin misalnya, tanaman obat yang paling sering diminum masyarakat kita, “Maksimal sehari 3 kali sehari, dengan dosis tidak lebih dari 2 gram kurkumin dalam 3 kali minum untuk kondisi peradangan,” kata Dewi.  Sementara, untuk orang yang sehat cukup 1 kali sehari.  

 

Sebagai gambaran untuk mengetahui takarannya, dalam 100 gram (1 ons) kunyit dan temulawak mengandung kadar kurkumin kisaran 3%. Jadi, dalam 100 gram (1 ons) temulawak terkandung 3 gram kurkumin

 

Sementara itu, meski penelitian untuk COVID-19 belum ada secara lengkap, Dewi juga menerangkan beberapa tanaman obat yang teruji efektif melawan SARS -Cov, yang materi genetiknya mirip dengan COVID-19. Di antaranya adalah:

 

Akar manis: bekerja sebagai imunomodulator sel leukosit.

Delima: mengandung polifenol yang menghambat replikasi virus.

Daun jambu biji:  untuk menghambat replikasi virus.

Kayu manis: mengandung prosianidin dan beberapa kandungan lain yang bekerja sama menghambat masuknya virus ke dalam tubuh inang.

Spider lily dan licorice: menghambat replikasi corona virus. (wn)