Wanita Network

Gugus Tugas: Laser Dari Thermometer Gun Tidak Rusak Otak

Foto: Pexels

 

Di tengah pandemic corona ini, selain menggunakan masker dan kerap cuci tangan, kita terbiasa dengan thermometer gun. Setiap kali akan memasuki suatu tempat, aka nada petugas yang menembakkan pistol untuk mengecek suhu tubuh kita.

 

Belakangan beredar video wawancara Ichsanuddin Noorsy oleh Helmi Yahya yang menyatakan laser dari termometer gun akan merusak otak.  Dalam transkrip percakapan yang diunggah situs resmi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19,  covid19.go.id, Ichanuddin Noorsy mengatakan, ia menolak jika akan diperiksa suhunya menggunakan thermometer gun.

 

Menurutnya, karena handgun thermometer itu untuk memeriksa kabel panas, bukan untuk memeriksa temperatur manusia.

 

Dalam penjelasannya, Gugus Tugas menuliskan bahwa sinar laser yang ada pada termometer non-kontak bukan untuk mengukur temperatur, melainkan hanya sebagai alat bantu untuk membidik area mana yang akan diukur suhunya.

 

Laser yang dipergunakan adalah warna merah; daya yang dipergunakan lebih rendah dari 1 mW (miliWatt), dan cuma berbahaya jika disorot langsung ke mata. Energinya yang sangat kecil tidak akan mampu membuat kerusakan pada jaringan kulit manusia, apalagi sampai menembus ke dalam otak.

 

Sebagai perbandingan, sinar matahari yang jatuh ke permukaan bumi kekuatannya antara 1321 sampai 1413 watt per meter persegi, 1.3 sampai 1.4 juta kali lebih kuat daripada energi sinar laser dari termometer gun tadi, namun tidak ada yang takut otaknya akan rusak terkena radiasi sinar matahari.



Cara kerja termometer IR (infra red), laser termometer ataupun temperature gun (thermogun) adalah mengukur energi dan emisivitas gelombang infra merah yang diradiasikan oleh objek yang ingin diukur suhunya; sinar laser yang dikeluarkan oleh alat tersebut hanya untuk membantu untuk memvisualisasikan area yang diukur suhunya, bukan untuk mengukur suhunya sendiri.
 

Jenis termometer non-kontak ini juga secara umum terbagi dua: untuk kepentingan industri, yang disebut oleh Noorsy untuk mengukur panas kabel, dan untuk keperluan medis.

 

Untuk keperluan medis ini sudah ada perhitungan khusus untuk menghitung suhu pada pertengahan dahi diukur dari jarak maksimal 4 cm dikonversikan menjadi sama dengan suhu dari dalam mulut (oral-equivalent), jadi seperti memasukkan termometer konvensional ke dalam mulut.
 

Kesimpulannya, klaim sinar laser dari termometer IR akan merusak struktur otak itu tidak benar, dan pengukuran termometer IR untuk keperluan medis memang harus pada dahi agar hasilnya akurat. (wn)

 

Baca Juga:

Yuri: Face Shield Tanpa Masker Perlindungan Dari COVID 19 Tidak Efektif

Belum Ada Bukti Kuat Vitamin D Bisa Bantu Lawan COVID-19