Wanita Network

Rangkuman 3 Studi Terkini Tentang Antibodi, Gejala dan Obat COVID-19


Foto: Pexels


Sejak pecah pada Desember 2019, hingga Oktober 2020, dunia masih berjuang menghadapi COVID-19. Seperti apakah perkembangan terbarunya?

Berikut ini ringkasan dari studi terbaru mengenai virus corona baru, bagaimana menemukan pengobatan dan vaksin untuk melawan virus yang diberi nama SARS-CoV-2 ini.
 

1/ Antobodi COVID-19 Hanya Bertahan 3 Bulan

Orang-orang yang terinfeksi COVID-19 akan mengembangkan antibody yang bisa melawan virus corona baru ini. Namun, berdasarkan publikasi Science Immunology pada Kamis (15/10), antibody ini hanya akan bertahan 3 bulan saja di dalam tubuh.
 
Penelitian dilakukan pada 750 pasien, dengan mengecak Immunoglobulin G (IgG) mereka, yang mulai muncul setelah mereka terinfeksi, dan seberapa lama beradaannya di tubuh. Peneliti menemukan antibody. Peneliti menemukan antibody IgG akan hilang setelah 100 hari.
 
2/ Gejala COVID-19 Bisa Berbulan-bulan
Setelah 3 bulan setelah menderita sakit, banyak pasien COVID-19 yang masih mengalami gejala, demikian hasil dua studi terbaru. Di Spanyol, dokter-dokter memeriksa kembali 108 pasien, termasuk 44 orang yang mengalami gejala berat.

Pada minggu ke-12 setelah diagnosis, 76 persen masih merasakan gejala, 40% melaporkan mengalami 3 atau lebih masalah kesehatan yang berhubungan dengan gejala penyakit yang disebabkan virus corona, demikian laporan yang diterbitkan medRxiv pada Kamis (15/10). Gejala yang paling sering dirasakan adalah nafas pendek-pendek, kelelahan, batuk, dan gangguan psikologis dan cognitive.

Hasil yang serupa juga dialami 233 pasien COVID-19 di Amerika Serikat. Dari 8 responden yang mengalami gejala yang berat, 2 di antaranya mengaku masih merasakan gejala sakit setelah 90 hari setelah sakit pertama kali.

"Tapi, meski gejala yang dialami sangat ringan, 14,3% mengaku masih merasakan sakit setelah 30 hari atau lebih, setelah pertama kali sakit,” ujar peneliti. Di Amerika, gejala yang paling sering dialami adalah gangguan indera pengecap dan penciuman, tidak bisa berkonsentrasi, nafas pendek-pendek, gampang lupa, kebingungan, sakit kepala, dada sakit, sakit saat bernafas dalam, dan detak jantung yang cepat.
 

3/ Pemulihan Pasien COVID-19 Lebih Cepat 5 Hari Dengan Remdesivir
Data final dari penelitian Gilead Sciences Inc untuk obat remdesivir menunjukkan bahwa obat ini 5 hari lebih cepat memulihkan pasien COVID-19. Hasil ini diperoleh dari pasien yang dirawat di rumah sakit, seperti laporan yang dipublikasikan di The New England Journal of Medicine.

Penelitian membandingkan 1.062 pasien dengan pemberian remdesivir – yang dipasaran dijual dengan nama Veklury – dengan kelompok placebo (pasien yang tidak diberikan remdesivir). Rata-rata, pemulihan yang mendapatkan remdesivir adalah 10 hari, dan kelompok placebo 15 hari. Di antara pasien yang membutuhkan oksigen dari awal, pada pasien dengan pemberian remdesivir membutuhkan oksigen selama 13 hari, dibandingkan kelompok placebo yang membutuhkan waktu 21 hari.

Dalam analisis pada pasien yang membutuhkan oksigen, obat bisa menurunkan risiko kematian hingga 70persen. "Kami sekarang memiliki data bahwa pemberian remdesivir pada pasien yang membutuhkan oksigen bisa secara signifikan risiko kematian dibandingkan grup pembanding,” ujar Dr. Andre Kalil, ahli penyakit infeksi di University of Nebraska Medical Center yang menjadi kepala peneliti.(wn)


Baca Juga:

Dari Fase 0 Hingga Sampai Ke Masyarakat, Jalan Panjang Pembuatan Vaksin

Kena COVID-19, Donald Trump Diobati Dengan Dexamethason, Obat Yang Juga Dipakai Di Indonesia